Showing posts with label Pengantar Ekonomi dan Manajemen. Show all posts
Showing posts with label Pengantar Ekonomi dan Manajemen. Show all posts

INFLASI

on 20120622
Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya :
  • konsumsi masyarakat yang meningkat
  • berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi
  • akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang
Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadang kala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.

Berdasarkan asalanya, inflasi terbagi menjadi 2, yaitu :
  1. Inflasi yang berasal dari dalam negeri, terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal.
  2. Inflasi yang berasal dari luar negeri, terjadi akibat naiknya harga barang impor.
Berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga, inflasi terbagi menjadi 3 yaitu :
  1. Inflasi tertutup, kenaikan harga yang terjadi hanya pada satu atau dua barang tertentu.
  2. Inflasi terbuka, kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum.
  3. Inflasi yang tidak terkendali, kenaikan harga terjadi setiap saat, terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama.
Berdasarkan keparahannya inflasi juga dibedakan menjadi 4, yaitu :
  1. Inflasi ringan, terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun.
  2. Inflasi sedang, terjadi apabila kenaikan harga berada diantara 10% - 30% setahun.
  3. Inflasi berat, terjadi apabila kenaikan harga berada diantara 30% - 100% setahun.
  4. Hiperinflasi, terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.
Inflasi dapat disebabkan oleh 2 hal, yaitu :
  1. Tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) yang dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter (Bank Sentral).
  2. Desakan (tekanan) produksi atau distribusi yang dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh pemerintah.
Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat presentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut diantaranya :
  • Indeks Harga Konsumen yaitu, indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli konsumen.
  • Indeks Biaya Hidup.
  • Indeks Harga Produsen yaitu, indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan produksi.
  • Indeks Harga Komoditas yaitu, indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu.
  • Indeks Harga Barang-barang Modal.
  • Deflator PDB menunjukan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi dan jasa.
Inflasi dapat berdampak positif dan berdampak negatif, yaitu :

a. Dampak positif akan terjadi apabila inflasi itu ringan. Inflasi yang ringan tersebut dapat mendorong perekonomian yang lebih baik yaitu, meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan melakukan investasi.

b. Dampak negatif akan terjadi apabila inflasi itu parah (tidak terkendali). Karena mengakibatkan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau melakuakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat.


SUMBER:

ANALISIS SENSITIVITAS DAN ANALISIS TITIK SIMPUL

on 20120505
ANALISIS SENSITIVITAS

Analisis Sensitivitas merupakan analisis yang dilakukan setelah kondisi optimal pada suatu tabel simpleks tercapai.

TUJUAN
Mengurangi / menghindari perhitungan ulang jika terjadi perubahan-perubahan koefisien model LP saat kondisi optimal telah tercapai.

KAIDAH DALAM ANALISIS SENSIVITAS
Ada 3 kaidah penting yang digunakan sebagai dasar dalam melakukan Analisis Sensitivitas yaitu :

KAIDAH I
Pada setiap interasi simpleks, matriks starting solution dapat dipakai untuk menghitung nilai Slack Variabel dibaris tujuan dengan mengalikan nilai BV dari interasi yang bersangkutan pada fungsi tujuan dengan matriks starting solution di tabel optimal. Matriks starting solution adalah matriks dari variabel dasar (BV) dan Slack variabel tanpa baris fungsi tujuan (baris 0).

KAIDAH II
Nilai kanan pada tiap interasi dapat dihitung dengan mengalikan matriks starting solution pada interasi bersangkutan dengan vektor kolom nilai kanan (RHS) pada tabel awal.

KAIDAH III
Pada setiap interasi, nilai-nilai yang terletak dibawah setiap variabel keputusan pada tabel simpleks merupakan hasil kali matriks starting solution pada interasi bersangkutan dengan vektor kolom tiap variabel pada tabel awal.

CONTOH
Fungsi Tujuan : Maksimumkan Laba
   Z = 15X1 + 10X2 (dalam Rp 10.000)
Fungsi Pembatas :
   Bahan A =  X1 + X2 ≤ 600
   Bahan B = 2X1 + X2 ≤ 1000
                     X1, X2 ≥ 0

Solusi Awal :

Var Dasar
X1
X2
S1
S2
NK
Indek
Z
-15
-10
0
0
0
-
S1
1
1
1
0
600
600
S2
2
1
0
1
1000
50

Solusi Optimum : 

Var Dasar
X1
X2
S1
S2
NK
Indek
Z
1
0
5
5
8000
-
X2
0
1
2
1
200
-
X1
1
0
-1
1
400
-


Matriks Invers :




Matriks Invers ini dalam analisis sensitivitas disebut : Matriks Starting Solution. Matriks ini menjadi pedoman dalam melakukan perubahan-perubahan parameter dalam analisis sensitivitas.

Perubahan Koefisien f-tujuan (Cj)
Solusi Optimum :


G = 600(5) + 1000(5) = 8000.

Perubahan (C2 C1) dari (10 15) menjadi (12 15) maka:

G = 600(9) + 1000(3) = 5400 + 3000 = 8400.


ANALISIS TITIK IMPAS 

Analisis titik impas (break even point) diperlukan untuk mengetahui hubungan antara volume produksi, volume penjualan, harga jual, biaya produksi, biaya lainnya baik bersifat tetap maupun variabel. Analisis titik impas hanya diperlukan bagi perusahaan-perusahaan yang dalam menyelenggarakan operasinya harus menanggung beban tetap yaitu berupa biaya tetap di samping adanya biaya variabel yang harus ditutup dari hasil penjualan.

Analisis titik impas ini dapat dijadikan sebagai pengganti untuk meramalkan suatu faktor yang tidak diketahui dalam membuat keputusan proyek. Analisis ini juga dapat membantu menentukan aliran kas, tingkat permintaan yang dibutuhkan, serta kombinasi harga dan permintaan mana yang memungkinkan untuk memperoleh keuntungan yang besar.  Jadi, dapat disimpulkan bahwa analisis titik impas adalah suatu cara untuk mengetahui atau uuntuk merencanakan pada volume produksi atau volume penjualan berapakah perusahaan yang bersangkutan memperoleh keuntungan atau menderita kerugian.

KLASIFIKASI BIAYA
Dalam membuat analisis titik impas, biaya-biaya yang telah terjadi (biaya produksi, biaya penjualan, biaya administras, dll) selama periode tertentu harus diklasifikasikan ke dalam kelompok biaya tetap dan kelompok biaya variabel.

Biaya tetap (Fixed Cost atau Fixed Expense) adalah jenis biaya yang selama kisaran waktu operasional selalu tetap jumlahnya walaupun volume produksi berubah.
Misalnya, biaya penyusutan atau depresiasi, biaya gaji, biaya asuransi, biaya bunga, biaya pemeliharaan.

Biaya variabel (Variable Cost atau Variable Expense) adalah jenis biaya yang besar kecilnya tergantung pada banyak sedikitnya volume produksi.
Misalnya,biaya pemakaian bahan dasar, biaya tenaga kerja, biaya penerangan, dll.
Dalam analisis titik impas disyaratkan bahwa perubahan biaya variabel ini sebanding dengan perubahan volume produksi sehingga biaya variabel per unit barang yang diproduksi bersifat tetap.

Biaya total (Total Cost) adalah jumlah biaya tetap ditambah dengan biaya variabel pada masing-masing tingkat atau volume produksi.



FC = biaya tetap (fixed cost)
VC = biaya variabel (variable cost)
TC = biaya total (total cost)
Daerah yang diarsir merupakan besarnya biaya tetap (fixed cost).

METODE MENGHITUNG TITIK IMPAS
Data atau informasi yang diperlukan dalam menghitung titik impas adalah:
a. Hasil keseluruhan penjualan atau harga jual per unit.
b. Biaya variabel keseluruhan atau biaya variabel per unit.
c. Jumlah biaya tetap keseluruhan.

Terdapat 4 metode dalam menghitung titik impas, yaitu:
1. BEP = (FC/1) - (VC/S)
Dimana,
BEP = penjualan pada titik impas dalam rupiah
FC = biaya tetap keseluruhan
VC = biaya variabel keseluruhan
S = hasil penjualan keseluruhan (sales)
1 = konstanta

2. BEP = FC/MIR
Dimana,
MIR = rasio pendapatan marginal dengan hasil penjualan (marginal incomerasio)
MIR = 1-VCR disebut juga profit-volume ratio (P/V)

3. BEP = FC + VC pada BEP + nol
Dimana,
VC pada BEP = persentase biaya variabel dari hasil penjualan pada titik impas

4. BEP = FCP / (P-V)
Dimana,
BEP = penjualan pada titik impas dalam unit
P = harga jual per unit
V = biaya variabel per unit

CONTOH
Perusahaan Bukit Makmur beroperasi dengan biaya tetap keseluruhan Rp 120.000.000. Biaya variabelnya diketahui sebesar 60% dari penjualan. Hasil keseluruhan penjualan pada kapasitas penuh adalah Rp 500.000.000. Perusahaan hanya memproduksi 1 jenis barang dan harga jualnya adalah Rp 500,- per unit. Karena variabel cost ratio diketahui 60% ini berarti bahwa biaya variabel per satuan adalah 60% * Rp 500 = Rp 300. Dari data tersebut kemudian diringkas sebagai berikut.

FC = Rp 120.000.000
S = Rp 500.000.000
P = Rp 500
V = Rp 300
VCR = 60%
MIR = 1-VCR = 1-60% = 40% (P/V)

Sehingga titik impasnya (BEP) adalah:
BEP = FC / (P-V)
      = Rp 120.000.000 / (Rp 500 - Rp 300)
      = Rp 120.000.000 / Rp 200
      = 600.000 unit
      = Rp 300.000.000

Dari hasil perhitungan di atas dapatlah diketahui bahwa titik impas tercapai pada tingkat penjualan sebesar Rp 300.000.000 atau dalam tingkat produksi sebanyak 600.000 unit. Pada tingkat penjualan Rp 300.000.000 (600.000 unit) tersebut, perusahaan tidak akan memperoleh laba maupun menderita kerugian.


SUMBER:

NILAI WAKTU UANG

on 20120404

Waktu adalah salah satu faktor yang penting dalam membuat suatu keputusan untuk menentukan apa yang akan anda lakukan dengan uang anda miliki. Karena dengan adanya waktu maka akan ada kesempatan untuk menunda konsumsi maupun untuk memperoleh pendapatan lebih yang biasanya kita sebut bunga.

Konsep nilai waktu uang pada dasarnya mengungkapkan bahwa uang yang anda terima sekarang berbeda nilainya bila dibandingkan dengan uang yang anda terima 1 tahun dari sekarang misalnya. Konsep ini memasukkan nilai bunga yang mungkin didapatkan terhadap fungsi waktu.


FUTURE VALUE (FV)
Future value adalah nilai uang yang akan dihasilkan di masa yang akan datang atas uang yang ada saat ini dengan suku bunga tertentu.

Contoh:
Seseorang mempunyai uang sebesar Rp 50.000,- menabung di suatu bank yang memberikan bunga 20% pertahun. Berapa nilai tabungan setelah 5 tahun?
Misalkan:
P0     = nilai tabungan awal = Rp 50.000,-
R      = suku bunga             = 20%
FVr,n = nilai tabungan pada akhir periode n dengan suku bunga r

 FVr,n = P0 ( 1 + r )n

Jika n = 5 maka,
FV20%, 5 = Rp 50.000 ( 1 + 0,2)^5
            = Rp 124.500,-


PRESENT VALUE (PV)
Present value adalah nilai saat ini dari sejumlah uang yang akan dihasilkan pada masa yang akan datang dengan suku bunga tertentu.

Rumus:

 FVr,n = P0 ( 1 + r )n
 PV = P0 

Sehingga,
 PV = FVr,n [ ( 1 + r )-n ]

Contoh:
Anda ditawarkan suatu alternatif penerimaan pembayaran uang sebesar Rp 250.000,- pada akhir tahun ke-5 atau menerima sebesar Rp x,- sekarang. Apabila suku bunga sebesar 20% per tahun, berapa nilai x sebagai dasar untuk menolak atau menerima salah satu alternatif?

PV = P0 = FV20%,5th [(1+0,2)-5]
           = Rp 250.000 (0,402)
           = Rp 100.500,- 


NET PRESENT VALUE (NPV)
Net present value adalah selisih antara pengeluaran dan pemasukan yang telah didiskon dengan menggunakan social opportunity cost of capital sebagai diskon faktor atau dengan kata lain merupakan arus kas yang diperkirakan pada masa yang akan datang.

Rumus Yang Digunakan :
 NPV = PVpenerimaan - PVpengeluaran 

Arti Perhitungan NPV :
Jika…
Berarti…
Maka…

NPV > 0

Investasi yang dilakukan memberikan manfaat bagi perusahaan


Proyek bisa dijalankan.

NPV = 0

Investasi yang dilakukan tidak mengakibatkan perusahaan untung maupun rugi


Jika proyek dijalankan atau tidak dilaksanakan, tidak berpengaruh pada keuangan perusahaan. Keputusan harus ditetapkan dengan menggunakan kriteria lain misalnya dampak investasi terhadap positioning perusahaan.


NPV < 0

Investasi yang dilakukan akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan


Proyek ditolak.

Contoh:
Sebuah perusahaan akan mengganti mesin lama dengan mesin baru. Untuk mengganti mesin lama dibutuhkan dana investasi sebesar Rp 85.000.000,-. Mesin baru mempunyai umur ekonomis selama 5 tahun dengan salvage value berdasarkan pengalaman pada akhir tahun ke-5 sebesar Rp 20.000.000,-. Berdasarkan pengalaman pengusaha, cash in flows setiap tahun diperkirakan sebesar Rp 25.000.000,- dengan biaya modal 15% per tahun. Apakah mesin pengganti ini layak untuk dibeli apabila dihilat dari NPV?

PV =  [25.000.000 (1+0,15)-1] + [25.000.000 (1+0,15)-2] + [25.000.000 (1+0,15)-3]
        + [25.000.000 (1+0,15)-4] + [25.000.000 (1+0,15)-5] 
PV = (21.739.130) + (18.903.591) + (16.437.905) + (14.293.831) + (12.429.418)
PV =  83.803.875

NPV = PVpenerimaan - PVpengeluaran
       = 83.803.875 - 85.000.000
       = - 1.196.125
Berdasarkan perhitungan, NPV diperoleh nilai negatif, sehingga pembelian mesin pun tidak mungkin untuk dilaksanakan.

 
INTERNAL RATE OF RETURN (IRR)
Internal rate of return merupakan indikator tingkat efisiensi dari suatu investasi. IRR digunakan dalam menentukan apakah investasi dilaksanakan atau tidak. Untuk itu, biasanya digunakan acuan bahwa investasi yang dilakukan harus lebih tinggi dari minimum acceptable rate of return atau minimum atractive rate of return yaitu laju pengembalian minimum dari suatu investasi.

Rumus:
 IRR = i2 + (PV2 - PV1) * [(i1 - i2) * (PV1 - PV2)-1] 

Contoh:
Berdasarkan contoh NPV yang di atas, maka:
PV1 dengan DF 15% menghasilkan Rp 83.803.875,- dan PV2 dengan DF 12% adalah:
PV2 = [25.000.000 (1+0,12)-1] + [25.000.000 (1+0,12)-2] + [25.000.000 (1+0,12)-3]
        + [25.000.000 (1+0,12)-4] + [25.000.000 (1+0,12)-5]
PV2 = (22.321.428) + (19.929.846) + (17.794.506) + (15.887.951) + (14.185.671)
PV2 = 90.119.402


Sehingga,
IRR = 12 + (90.119.402 - 85.000.000) * [(15 - 13) * (83.803.875 - 90.119.402)-1]
     = 12 + (5.119.402) * [2 * (-6.315.527)-1]
     = 10,38%
Karena hasil IRR lebih kecil dari tingkat bunga 15% berarti penggantian mesin tidak layak.


SUMBER:
Download PPT : Analisis Kriteria Investasi 
http://id.wikipedia.org 
http://wongasjap.blogspot.com/2011/03/nilai-waktu-uang.html